Posted by: bzakat | 7 May, 2010

Dracula, Pembantai Umat Islam Dalam Perang Salib

Membongkar Sebuah Kebohongan

Kisah hidup Dracula merupakan salah satu contoh bentuk penjajahan sejarah
yang begitu nyata yang dilakukan Barat. Kalau film Rambo merupakan suatu
fiksi yang kemudian direproduksi agar seolah-olah menjadi nyata oleh Barat,
maka Dracula merupakan kebalikannya, tokoh nyata yang direproduksi menjadi
fiksi. Bermula dari novel buah karya Bram Stoker yang berjudul Dracula,
sosok nyatanya kemudian semakin dikaburkan lewat film-film seperti Dracula’s
Daughter (1936), Son of Dracula (1943), Hoorof of Dracula (1958), Nosferatu
(1922)-yang dibuat ulang pada tahun 1979-dan film-film sejenis yang
terus-menerus diproduksi.

Lantas, siapa sebenarnya Dracula itu?
Dalam buku berjudul “Dracula, Pembantai Umat Islam Dalam Perang Salib” karya
Hyphatia Cneajna ini, sosok Dracula dikupas secara tuntas. Dalam buku ini
dipaparkan bahwa Dracula merupakan pangeran Wallachia , keturunan Vlad
Dracul. Dalam uraian Hyphatia tersebut sosok Dracula tidak bisa dilepaskan
dari menjelang periode akhir Perang Salib. Dracula dilahirkan ketika
peperangan antara Kerajaan Turki Ottoman-sebagai wakil Islam-dan Kerajaan
Honggaria-sebagai wakil Kristen-semakin memanas. Kedua kerajaan tersebut
berusaha saling mengalahkan untuk merebutkan wilayah-wilayah yang bisa
dikuasai, baik yang berada di Eropa maupun Asia .

Puncak dari peperangan ini adalah jatuhnya Konstantinopel- benteng
Kristen-ke dalam penguasaan Kerajaan Turki Ottoman. Dalam babakan Perang
Salib di atas Dracula merupakan salah satu panglima pasukan Salib. Dalam
peran inilah Dracula banyak melakukan pembantain terhadap umat Islam.
Hyphatia memperkirakan jumlah korban kekejaman Dracula mencapai 300.000 ribu
umat Islam. Korban-korban tersebut dibunuh dengan berbagai cara-yang
cara-cara tersebut bisa dikatakan sangat biadab-yaitu dibakar hidup-hidup,
dipaku kepalanya, dan yang paling kejam adalah disula. Penyulaan merupakan
cara penyiksaan yang amat kejam, yaitu seseorang ditusuk mulai dari anus
dengan kayu sebesar lengan tangan orang dewasa yang ujungnya dilancipkan.
Korban yang telah ditusuk kemudian dipancangkan sehingga kayu sula menembus
hingga perut, kerongkongan, atau kepala. Sebagai gambaran bagaimana situasi
ketika penyulaan berlangsung penulis mengutip pemaparan Hyphatia:

“Ketika matahari mulai meninggi Dracula memerintahkan penyulaan segera
dimulai. Para prajurit melakukan perintah tersebut dengan cekatakan seolah
robot yang telah dipogram. Begitu penyulaan dimulai lolong kesakitan dan
jerit penderitaan segera memenuhi segala penjuru tempat itu. Mereka, umat
Islam yang malang ini sedang menjemput ajal dengan cara yang begitu
mengerikan. Mereka tak sempat lagi mengingat kenangan indah dan manis yang
pernah mereka alami.”

Tidak hanya orang dewasa saja yang menjadi korban penyulaan, tapi juga bayi.
Hyphatia memberikan pemaparan tetang penyulaan terhadap bayi sebagai
berikut:
“Bayi-bayi yang disula tak sempat menangis lagi karena mereka langsung
sekarat begitu ujung sula menembus perut mungilnya. Tubuh-tubuh para korban
itu meregang di kayu sula untuk menjemput ajal.”
Kekejaman seperti yang telah dipaparkan di atas itulah yang selama ini
disembunyikan oleh Barat. Menurut Hyphatia hal ini terjadi karena dua sebab.

Pertama,
pembantaian yang dilakukan Dracula terhadap umat Islam tidak bisa dilepaskan
dari Perang Salib. Negara-negara Barat yang pada masa Perang Salib menjadi
pendukung utama pasukan Salib tak mau tercoreng wajahnya. Mereka yang getol
mengorek-ngorek pembantaian Hilter dan Pol Pot akan enggan membuka borok
mereka sendiri. Hal ini sudah menjadi tabiat Barat yang selalu ingin menang
sendiri.
Kedua,
Dracula merupakan pahlawan bagi pasukan Salib. Betapapun kejamnya Dracula
maka dia akan selalu dilindungi nama baiknya. Dan, sampai saat ini di
Rumania , Dracula masih menjadi pahlawan. Sebagaimana sebagian besar sejarah
pahlawan-pahlawan pasti akan diambil sosok superheronya dan dibuang segala
kejelekan, kejahatan dan kelemahannya.

Guna menutup kedok kekejaman mereka, Barat terus-menerus menyembunyikan
siapa sebenarnya Dracula. Seperti yang telah dipaparkan di atas, baik
lewat karya fiksi maupun film, mereka berusaha agar jati diri dari sosok
Dracula yang sebenarnya tidak terkuak. Dan, harus diakui usaha Barat untuk
mengubah sosok Dracula dari fakta menjadi fiksi ini cukup berhasil. Ukuran
keberhasilan ini dapat dilihat dari seberapa banyak masyarakat-khususny a
umat Islam sendiri-yang mengetahui tentang siapa sebenarnya Dracula. Bila
jumlah mereka dihitung bisa dipastikan amatlah sedikit, dan kalaupun mereka
mengetahui tentang Dracula bisa dipastikan bahwa penjelasan yang diberikan
tidak akan jauh dari penjelasan yang sudah umum selama ini bahwa Dracula
merupakan vampir yang haus darah.

Selain membongkar kebohongan yang dilakukan oleh Barat, dalam bukunya
Hyphatia juga mengupas makna salib dalam kisah Dracula. Seperti yang telah
umum diketahui bahwa penggambaran Dracula yang telah menjadi fiksi tidak
bisa dilepaskan dari dua benda, bawang putih dan salib. Konon kabarnya hanya
dengan kedua benda tersebut Dracula akan takut dan bisa dikalahkan. Menurut
Hyphatia pengunaan simbol salib merupakan cara Barat untuk menghapus
pahlawan dari musuh mereka-pahlawan dari pihak Islam-dan sekaligus untuk
menunjukkan superioritas mereka.

Siapa pahlawan yang berusaha dihapuskan oleh Barat tersebut? Tidak lain
Sultan Mahmud II (di Barat dikenal sebagai Sultan Mehmed II). Sang Sultan
merupakan penakluk Konstantinopel yang sekaligus penakluk Dracula. Ialah
yang telah mengalahkan dan memenggal kepala Dracula di tepi Danua Snagov.
Namun kenyataan ini berusaha dimungkiri oleh Barat. Mereka berusaha agar
merekalah yang bisa mengalahkan Dracula. Maka diciptakanlah sebuah fiksi
bahwa Dracula hanya bisa dikalahkan oleh salib. Tujuan dari semua ini selain
hendak mengaburkan peranan Sultan Mahmud II juga sekaligus untuk menunjukkan
bahwa merekalah yang paling superior, yang bisa mengalahkan Dracula si Haus
Darah.

Dan, sekali lagi usaha Barat ini bisa dikatakan berhasil.
Selain yang telah dipaparkan di atas, buku “Dracula, Pembantai Umat Islam
Dalam Perang Salib” karya Hyphatia Cneajna ini, juga memuat hal-hal yang
selama tersembunyi sehingga belum banyak diketahui oleh masyarakat secara
luas. Misalnya tentang kuburan Dracula yang sampai saat ini belum terungkap
dengan jelas, keturunan Dracula, macam-macam penyiksaan Dracula dan sepak
terjang Dracula yang lainnya.

Kesimpulan
suatu penjajahan sejarah tidak kalah berbahayanya dengan bentuk penjajahan
yang lain-politik, ekonomi, budaya, dll. Penjajahan sejarah ini dilakukan
secara halus dan sistematis, yang apabila tidak jeli maka kita akan
terperangkap di dalamnya. Oleh karena itu, sikap kritis terhadap sejarah
merupakan hal yang amat dibutuhkan agar kita tidak terjerat dalam penjajahan
sejarah. Sekiranya buku karya Hyphatia ini-walaupun masih merupakan langkah
awal-bisa dijadikan pengingat agar kita selalu kritis terhadap sejarah
karena ternyata penjajahan sejarah itu begitu nyata ada di depan kita.
Wikipedia pun mengkonfirmasikan eksistensi historis Dracula yang membantai
ribuan Muslim dengan cara menusuk/mensula (impale)
Referensi :
<http://en.wikipedia .org/wiki/ Dracula#Allusion s_to_actual_ history_and_ geo>
http://en.wikipedia .org/wiki/ Dracula#Allusion s_to_actual_ history_and_ geo
graphy
Sumber : Dracula, Pembantai Umat Islam dalam Perang Salib
Ditulis pada Maret 1, 2008 oleh agungsulistyo (Makalah ini disampaikan
dalam bedah buku Dracula, Pembantai Umat Islam dalam Perang Salib” di
auditorium Fakultas Ilmu Budaya UGM Oleh: Ragil Nugroho)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: