Posted by: bzakat | 4 February, 2011

KARTU MANFAAT MUZZAKI – OASE Card

Pada Periode Program 2011/1432H, Baituzzakat menerbitkan Oase Card sebagai kartu manfaat muzzaki, kartu ini merupakan bukti atau tanda bahwa Bapak/Ibu/Sdr adalah donatur Baituzzakat. Jika anda donatur tetap kami (minimal 1 tahun), otomatis akan menjadi pemegang Oase Card. Mohon konfirmasi kepada kami, apabila belum mengisi formulir donatur, agar kami dapat mengirimkan formulir untuk pengisian Donatur Tetap kami.

Jika saudaraku yang kebetulan belum menjadi donatur Baituzzakat, dapat berpertisipasi menjadi DONATUR TETAP hanya dengan infaq minimal 5000 perbulan.

Bagi pemegang OASE Card, Kami memberikan layanan manfaat berupa pengantaran Jenazah dan Pasien di wilayah Kota/Kab Bekasi secara Gratis

Posted by: bzakat | 9 December, 2010

Hijrah Sebagai Spirit Perubahan Bangsa

Kemarin umat Islam di seluruh penjuru dunia memasuki Tahun Baru Islam 1432 H. Sebagian dari kaum muslimin memperingati dan merayakannya dengan berbagai acara keagamaan. 

Tetapi, lebih dari sekadar peringatan dan perayaan tahunan, apa sebetulnya makna di balik peringatan Tahun Baru Islam, terutama bagi bangsa dan negara ini umumnya?

Secara historis, istilah hijrah merujuk pada perjalanan Nabi Muhammad SAW dan kaum muslimin dari Mekkah ke Madinah, menyusul situasi yang makin memburuk dialami oleh umat Islam di Mekkah.

Madinah menjadi tujuan hijrah karena warga di sana cukup bersahabat. Pada Rabi’ul Awwal, Nabi Muhammad dengan ditemani Abu Bakar selaku sahabat dekat, berangkat berhijrah.

Namun, perjalanan hijrah beliau tidak cukup mulus. Orang-orang Quraisy Mekkah berusaha menghalangi, tetapi mereka gagal. Beliau berhasil lolos dari kepungan dan kejaran mereka.

Indah dan Cemerlang

Husein Haikal, dalam bukunya, Hayat Muhammad (Sejarah Hidup Muhammad) (1972), menyebut peristiwa hijrah sebagai kisah yang paling indah dan cemerlang yang pernah dikenal manusia dalam sejarah pengejaran yang penuh bahaya, demi kebenaran, keyakinan dan iman.

Nabi Muhammad berhijrah ke Madinah dengan membawa spirit perubahan atau transformasi. Selama lebih kurang 13 tahun berdakwah di Mekkah menyampaikan ajaran Islam, hanya segelintir orang yang mengikuti beliau.

Pengikutnya itu pun dari kalangan keluarga dekat dan orang-orang miskin serta budak. Madinah menjadi harapan baru beliau untuk membuat perubahan.

Spirit perubahan itu terlihat ketika dalam perjalanan hijrah menuju Madinah beliau singgah di Quba, kemudian mendirikan masjid untuk pertama kalinya. Nama Madinah sendiri sebelumnya adalah Yatsrib.

Dalam buku Tapak Sejarah Seputar Mekkah-Madinah (1999) karya Muslim Nasution, disebutkan bahwa Yatsrib berasal dari nama salah seorang keturunan Nabi Nuh yang mengembara dari Babilonia, Irak, sebelum kemudian tinggal di wilayah itu.

Nabi Muhammad mengubah nama Yatsrib karena ia memiliki arti yang kurang baik, yakni ‘memaki’ atau ‘sesuatu yang kotor’ (Ghali Muhammad Amin asy-Syinqithi, ad-Durr ats-Tsamin fi Ma’alim Dar ar-Rasul al-Amin, 1992, h. 10).

Menghijrahkan Bangsa

Dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara, spirit perubahan dalam hijrah mestinya menjadi inspirasi, terutama bagi para punggawa pemerintah dan para abdi negara.

Oleh karena merekalah nakhoda yang akan membawa kapal besar bernama Indonesia ini. Tanpa kerja keras dan komitmen yang serius serta pengorbanan, perubahan itu tidak mungkin akan terwujud.

Bangsa ini telah memilih demokrasi sebagai sistem dalam menyelenggarakan pemerintahan. Hal ini menjadi modal yang sangat potensial bagi terciptanya perubahan berbangsa dan bernegara.

Barrington Moore Jr., sosiolog politik kelahiran Amerika Serikat (1913-2005) dalam bukunya, Social Origins of Dictatorship and Democracy: Lord and Peasant in the Making of the Modern World (1966)—yang merupakan studi komparatif tentang modernisasi di Inggris, Prancis, Amerika Serikat, China, Jepang dan India—menyebutkan bahwa secara garis besar proses perubahan pada negara-negara maju tadi melalui tiga pola yaitu demokrasi, fasisme dan komunisme.

Demokrasi meniscayakan berjalannya proses dialektis antara para punggawa pemerintah dan rakyatnya yang terus-menerus, untuk menciptakan perubahan yang baik bagi semua. Demokrasi menjamin—meminjam istilah trilogi tesis dialektika Hegel—tesis, antitesis, dan sintetis, terus mengalir.

Bagi Hegel, tidak ada kebenaran yang absolut karena berlaku hukum dialektik. Yang absolut hanyalah semangat revolusionernya (perubahan atau pertentangan atas tesis oleh antitesis menjadi sintesis).

Segala kebijakan dari para punggawa pemerintah merupakan tesis yang bisa dikritik melalui antitesis opini publik sehingga menghasilkan sintesis yang sifatnya korektif-produktif. Oleh karena itu, dalam demokrasi, pemerintah tidak boleh bertindak semena-mena.

Perubahan memang tidak semudah membalik telapak tangan. Akan tetapi, ketika modal demokrasi sudah ada, juga modal sumber daya manusia dan alam sangat potensial, namun pertumbuhan ekonomi tidak kunjung berimbas pada tingkat kesejahteraan rakyat di akar rumput, tentu ada sesuatu yang keliru dalam pengelolaan dan manajerial negeri ini.

Tahun baru hijriyah kali ini menjadi momentum dan lokus yang tepat untuk lebih serius dan keras lagi membuat perubahan ke arah yang lebih baik secara nyata. Kata Ali bin Abi Thalib, jika hari ini sama dengan kemarin, maka itu berarti kerugian.

Allah berfirman, “Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran).” (QS Ali Imran: 140)

Momen tahun baru selalu memiliki kesan tersendiri di hati banyak orang. Kesan yang tentu saja berbeda-beda. Itulah kenapa sebagian mereka memperingati dan merayakan tahun baru itu dengan berbagai acara. Momen bersejarah, demikian kata mereka. Mulai dari yang sifatnya sebatas senang-senang, hura-hura, di jalanan atau di tempat-tempat hiburan, hingga yang sifatnya perenungan di tempat-tempat ibadah, tenggelam dalam dunia spiritual yang sangat dalam.

Peringatan tahun baru sesungguhnya sekadar melengkapi daftar momen-momen yang dianggap penting oleh manusia, kemudian mereka tradisikan menjadi semacam ritual tahunan yang tidak layak untuk terlewatkan tanpa kesan. Sepanjang itu dilakukan dalam batas wajar, sekadar hiburan pelepas penat, lelah, dan kebosanan, serta tidak diisi dengan aktivitas negatif, hal itu tentunya tidak masalah. Apalagi jika kemudian diisi dengan acara-acara yang sifatnya konstruktif, produktif, dan positif, itu jauh lebih baik.

Momen tahun baru dianggap penting, demikianlah kenyataannya. Tapi lebih penting daripada yang orang-orang persepsikan tentang tahun baru sebagai sekadar perayaan dan peringatan yang begitu-begitu saja, dari tahun ke tahun seperti itu saja, tanpa makna, tahun baru sesungguhnya mengisyaratan pesan-pesan penting yang mengingatkan manusia terkait dengan kehidupannya. Di antara pesan itu terkait dengan arti penting menjaga optimisme menghadapi masa depan dan spirit perubahan. Masa lalu tidak mungkin kembali, sementara masa depan yang masih misteri membentang di hadapannya. Di titik inilah optimisme untuk membuat perubahan dibangun dan dijaga agar tetap menyala dalam diri manusia.

Allah menggulirkan waktu, dari detik, menit, jam, menjadi hari, minggu, bulan, hingga tahun. Demikianlah sunatullah, hukum alam. Dalam perguliran waktu yang berputar seperti roda, kehidupan manusia tidak selalu berjalan mulus, lurus, dan normal-normal saja. Ada saatnya kehidupan seperti itu, ada saatnya pula sebaliknya. Tujuan sesungguhnya adalah agar manusia mengambil semua itu sebagai pelajaran. Pengalaman itu adalah guru yang paling baik, demikian sebuah pepatah menyatakan. Waktu akan tetap berjalan tanpa bisa manusia hentikan sejenak pun. Dan, pergantian tahun menjadi salah satu bukti paling terang tentang hal itu.

Membicarakan tahun baru, dan makna penting apa yang mungkin bisa digali dari situ, sesungguhnya tiada lain membicarakan tentang waktu yang terasa rugi jika disia-siakan begitu saja. Pemikiran inilah yang memicu manusia untuk selalu memupuk harapan agar sepanjang waktu yang ia lewati selalu berbuah keuntungan, bukan kerugian. Allah sendiri menegaskan hal ini di dalam Alquran, sekaligus mengungkapkan kunci-kunci bagi manusia agar tidak menjadi orang yang merugi, “Demi masa (waktu). Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan saling menasihati supaya menaati kebenaran dan saling menasihati supaya menetapi kesabaran.” (QS Al-Ashr: 1-3)

Beriman berarti percaya, tidak semata-mata percaya tentang keberadaan Allah dalam kehidupan, tapi percaya bahwa Allah akan membuka jalan bagi manusia yang memiliki tekad kuat, dan optimisme yang tinggi dalam menghadapi kehidupan di masa depan. Sementara amal saleh berarti segala aktivitas, tidak hanya yang sifatnya ibadah, tapi juga aktivitas sosial yang positif. Positif berarti aktivitas itu memberikan keuntungan pribadi, tanpa merugikan orang lain. Atau, bahkan memberikan keuntungan tidak hanya pada diri sendiri, tapi juga orang lain. Ini prinsip penting. Sedangkan saling menasihati supaya menaati kebenaran dan saling menasihati supaya menetapi kesabaran adalah sebuah tindakan atau upaya korektif dan introspektif mengenai aktivitas yang telah dilakukan, sebagai pelajaran di masa mendatang.

Khalifah Umar bin Khaththab sangat brilian membuat kalender berdasarkan perhitungan bulan yang dimulai dari Muharram hingga Dzul Hijjah, kemudian menyebutnya sebagai kalender hijrah atau hijriyah. Nama ini ia ambil dari momen hijrah Rasulullah dari Mekkah ke Madinah. Umar ingin menginjeksi pergantian tahun dengan spirit hijrah, yakni spirit perubahan, transformasi sosial, dan progresif-revolusioner, dalam balutan optimisme tentang masa depan yang gemilang akan diraih. Perjalanan hijrah beliau menjadi simbolisasi dari perjalanan meninggalkan situasi ‘buruk’ dan ‘gelap’ di Mekkah, menuju situasi yang ‘baik’ dan ‘bercahaya’ di Madinah. Ada spirit perubahan di sini.

Dalam sebuah hadisnya, Rasulullah mengatakan, “Siapa yang hijrahnya menuju Allah dan Rasul-Nya, maka ia akan mendapati Allah dan Rasul-Nya. Siapa yang hijrahnya untuk mendapatkan dunia, maka ia akan mendapatkan dunia itu. Dan, siapa yang hijrahnya untuk mendapatkan seorang perempuan untuk dinikahi, maka ia akan mendapatkan perempuan itu.” (HR Bukhari-Muslim dari Umar bin Khaththab)

Hadis ini menegaskan bahwa ada begitu banyak motif hijrah. Tiga hal yang disebutkan Rasulullah hanya misal sedikit untuk menunjukkan bagaimana sebuah niat, harapan, mimpi, dan cita-cita guna mendapatkan sesuatu, yang kemudian didapatkan. Di momen tahun baru, ada begitu banyak harapan, mimpi, dan cita-cita untuk mendapatkan sesuatu. Harapan itu ada yang sifatnya material dan nonmaterial, untuk kepentingan sesaat atau jangka panjang, untuk diri sendiri atau orang lain. Melalui hadis itu, Rasulullah sesungguhnya mengkritik orang-orang yang harapan, mimpi, dan cita-citanya sebatas untuk mendapatkan hal-hal yang sifatnya material dan temporal, padahal ada hal nonmaterial dan abadi yang jauh lebih penting dan berharga, yakni Allah dan Rasul-Nya.

Tahun baru sejatinya menyampaikan pesan kepada umat manusia sekaligus mendorongnya untuk selalu aktif bergerak mengisi hari-harinya dengan perubahan ke arah yang lebih baik, penuh optimis. Ali bin Abu Thalib pernah mengatakan, “Jika hari ini sama dengan hari kemarin, berarti ini sebuah kerugian.” Hanya orang-orang yang bisa mengambil pelajaran dari masa lalu sebagai bekal menghadapi masa depanlah yang akan mengalami perubahan yang sangat signifikan. Selamat tahun baru 1 Muharram 1432 H dan 1 Januari 2011 M. Semoga Allah selalu membuka jalan perubahan ke arah yang lebih baik bagi kita. Wallahu a’lam.
Oleh Fajar Kurnianto

Posted by: bzakat | 9 November, 2010

QURBAN UNTUK MENTAWAI DAN MERAPI

Sebagai bentuk kepedulian bencana yang terjadi di Merapi dan Mentawai, kami dari Rumah Sejahtera Baituzzakat menghimpun bantuan dalam bentuk hewan qurban dari para mudhohy (perqurban).  Rencana kami, hewan/daging qurban (daging kambing maupun sapi) akan diproses lanjut menjadi sosis & daging kering kalengan, kemudian disalurkan untuk para pengungsi korban bencana di Mentawai – Sumatera Barat dan Merapi – Yogyakarta.

Kami mengajak para donatur/pequrban berpartisipasi guna meringankan beban penderitaan saudara kita yang tertimpa musibah

Harga Hewan Qurban

  • Kambing/Domba (1/7) : Rp. 1.500.000,-
  • Sapi : Rp.  10.500.000,-

Salurkan Bantuan Anda melalui Rekening an. Yayasan Rumah Sejahtera:

1.    Bank Syariah Mandiri (BSM) No. Rek 120.700.1529

2.    Bank Mandiri No. Rek. 125.000.494 5341

3.    BNI No. Rek 00162. 54663

(Mohon konfirmasi via email atau fax, setelah anda memberikan donasi qurban, untuk kemudahan proses laporan kami)

Semoga Alloh SWT memberikan keberkahan bagi para donatur/pequrban semua dan tercatat sebagai amal yang mendapat pahala berlipat ganda. Amin.

Rumah Sejahtera Baituzzakat,

CP. Riswono (Program Devlp.  Mng.)

HP. 021-91451143 Telp./Fax. 021-88355111

Email: baituzzakat@yahoo.com

Web:  bzakat.wordpress.com

Posted by: bzakat | 11 August, 2010

Marhaban Yaa Ramadhan

Segenap Keluarga Besar Rumah Sejahtera Baituzzakat mengucapkan “SELAMAT MENUNAIKAN IBADAH RAMADHAN 1431 H” semoga kita menjadi insan muttaqien. Amien. Kami menghaturkan mohon maaf atas segala kekhilafan dan kesalahan selama kami berinteraksi dengan Bapak/Ibu mitra Baituzzakat, kami selalu terbuka menerima berbagai masukan program dan saran yang membangun untuk peningkatan kemanfaatan ZIS bagi dhuafa.

Posted by: bzakat | 23 July, 2010

MARHABAN YA RAMADHAN

Memaknai datangnya Bulan Ramadhan berarti umat muslim akan kedatangan tamu agung Ramadhan Bulan Puasa, kita sambut dengan suka cita,gembira karena kita masih diberi kesempatan oleh ALLOH SWT bertemu kembali dengan bulan mulia dimana ibadah dilipat gandakan pahalanya, kesempatan bertemu lailatul qadar. Tentunya dengan segala persiapan maksimal jiwa dan raga untuk melaksanakan kewajiban berpuasa selama sebulan.

DEFINISI PUASA
Secara etimologi, puasa berarti menahan, baik menahan makan, minum, bicara dan perbuatan. Seperti yang ditunjukkan firman Allah, surat Maryam ayat 26 :

“Sesungguhnya aku telah bernadzar berpuasa demi Tuhan yang Maha Pemurah, bahwasanya aku tidak akan berbicara dengan seorang manusiapun pada hari ini”. (Q.S. Maryam : 26)

Sedangkan secara terminologi, puasa adalah menahan dari hal-hal yang membatalkan puasa dengan disertai niat berpuasa. Sebagian ulama mendefinisikan, puasa adalah menahan nafsu dua anggota badan, perut dan alat kelamin sehari penuh, sejak terbitnya fajar kedua sampai terbenarnnya matahari dengan memakai niat tertentu. Puasa Ramadhan wajib dilakukan, adakalanya karena telah melihat hitungan Sya’ban telah sempurna 30 hari penuh atau dengan melihat bulan pada malam tanggal 30 Sya’ban. Sesuai dengan hadits Nabi saw.

“Berpuasalah dengan karena kamu telah melihat bulan (ru’yat), dan berbukalah dengan berdasar ru’yat pula. Jika bulan tertutup mendung, maka genapkanlah Sya’ban menjadi 30 hari.”

Puasa merupakan salah satu rukun Islam yang dilaksanakan oleh kaum muslimin di seluruh dunia. Allah swt. telah mewajibkannya kepada kaum yang beriman, sebagaimana telah diwajibkan atas kaum sebelum Nabi Muhammad saw. Puasa merupakan amal ibadah klasik yang telah diwajibkan atas setiap umat-umat terdahulu. Ada empat bentuk puasa yang telah dilakukan oleh umat terdahulu, yaitu:

  1. Puasanya orang-orang sufi, yakni praktek puasa setiap hari dengan maksud menambah pahala. Misalnya puasanya para pendeta
  2. Puasa bicara, yakni praktek puasa kaum Yahudi. Sebagaimana yang telah dikisahkan Allah dalam Al-Qur’an, surat Maryam ayat 26 :
    “Jika kamu (Maryam) melihat seorang manusia, maka katakanlah, sesungguhnya aku telah bernadzar berpuasa untuk tuhan yang Maha Pemurah, maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusiapun pada hari ini” (Q.S. Maryam :26).
  3. Puasa dari seluruh atau sebagian perbuatan (bertapa), seperti puasa yang dilakukan oleh pemeluk agama Budha dan sebagian Yahudi. Dan puasa-puasa kaum-kaum lainnya yang mempunyai cara dan kriteria yang telah ditentukan oleh masing-masing kaum tersebut.
  4. Sedang kewajiban puasa dalam Islam, orang akan tahu bahwa ia mempunyai aturan yang tengah-tengah yang berbeda dari puasa kaum sebelumnya baik dalam tata cara dan waktu pelaksanaan. Tidak terlalu ketat sehingga memberatkan kaum muslimin, juga tidak terlalu longgar sehingga mengabaikan aspek kejiwaan. Hal mana telah menunjukkan keluwesan Islam.

HIKMAH PUASA

Diwajibkannya puasa atas ummat Islam mempunyai hikmah yang dalam. Yakni merealisasikan ketakwaan kepada Allan swt. Sebagaimana yang terkandung dalam surat al-Baqarah ayat 183:
“Hai orang-orang yang beriman telah diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kalian bertakwa.”

Kadar takwa tersebut terefleksi dalam tingkah laku, yakni melaksanakan perintah dan menjauhi larangan. Al-Baqarah ayat 185 :
“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulan) al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang haq dan bathil). Karena itu, barang siapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan tersebut, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu”. Ayat ini menjelaskan alasan yang melatarbelakangi mengapa puasa diwajibkan di bulan Ramadhan, tidak di bulan yang lain. Allah mengisyaratkan hikmah puasa bulan Ramadhan, yaitu karena Ramadhan adalah bulan yang penuh berkah dan yang diistimewakan Allah dengan dengan menurunkan kenikmatan terbesar di dalamnya, yaitu al-Qur’an al-Karim yang akan menunjukan manusia ke jalan yang lurus. Ramadhan juga merupakan pengobat hati, rahmah bagi orang-orang yang beriman, dan sebagai pembersih hati serta penenang jiwa-raga. Inilah nikmat terbesar dan teragung. Maka wajib bagi orang-orang yang mendapat petunjuk untuk bersyukur kepada Sang Pemberi Nikmat tiap pagi dan sore.

Bila puasa telah diwajibkan kepada umat terdahulu, maka adakah puasa yang diwajibkan atas umat Islam sebelum Ramadhan?

Jumhur ulama dan sebagian pengikut Imam Syafi’i berpendapat bahwa tidak ada puasa yang pernah diwajibkan atas umat Islam sebelum bulan Ramadhan. Pendapat ini dilandaskan pada hadis Nabi saw. yang diriwayatkan oleh Mu’awiyah :
“Hari ini adalah hari Asyura’, dan Allah tidak mewajibkannya atas kalian. Siapa yang mau silahkan berpuasa, yang tidak juga boleh meninggalkannya.”

Sedangkan madzhab Hanafi mempunyai pendapat lain: bahwa puasa yang diwajibkan pertamakali atas umat Islam adalah puasa Asyura’. Setelah datang Ramadhan Asyura’ dirombak (mansukh). Madzhab ini mengambil dalil hadisnya Ibn Umar dan Aisyah ra.: diriwayatkan dari Ibn ‘Amr ra. bahwa Nabi saw. telah berpuasa hari Asyura’ dan memerintahkannya (kepada umatnya) untuk berpuasa pada hari itu. Dan ketika datang Ramadhan maka lantas puasa Asyura’ beliau tinggalkan, Abdullah (Ibnu ‘Amr) juga tidak berpuasa”. (H.R. Bukhari).

“Diriwayatkan dari Aisyah ra., bahwa orang-orang Quraisy biasa melakukan puasa Asyura’ pada masa jahiliyah. Kemudian Rasulullah memerintahkan untuk berpuasa hari Asyura’ sampai diwajibkannya puasa Ramadhan. Dan Rasul berkata, barang siapa ingin berpuasa Asyura’ silahkan berpuasa, jika tidak juga tak apa-apa”. (H.R. Bukhari dan Muslim).

Pada masa-masa sebelumnya, Rasulullah biasa melakukan puasa Asyura’ sejak sebelum hijrah dan terus berlanjut sampai usai hijrah. Ketika hijrah ke Madinah beliau mendapati orang-orang Yahudi sedang berpuasa (Asyura’), beliau pun ikut berpuasa seperti mereka dan manyerukan ke ummatnya untuk melakukan puasa itu.

Hal ini sesuai dengan wahyu secara mutawattir (berkesinambungan) dan ijtihad yang tidak hanya berdasar hadis Ahaad (hadis yang diriwayatkan oleh tidak lebih dari satu orang). ”Ibn Abbas ra. meriwayatkan: ketika Nabi saw. sampai di Madinah, beliau melihat orang-orang Yahudi sedang melakukan puasa Asyura’, lalu beliau bertanya: (puasa) apa ini? Mereka menjawab: ini adalah hari Nabi Saleh as., hari di mana Allah swt. memenangkan Bani Israel atas musuh-musuhnya, maka lantas Musa as. melakukan puasa pada hari itu. Lalu Nabi saw. berkata: aku lebih berhak atas Musa dari kalian. Lantas beliau melaksanakan puasa tersebut dan memerintahkan (kepada sahabat-sahabatnya) berpuasa. (HR. Bukhari).

Puasa Ramadhan diwajibkan pada bulan Sya’ban tahun kedua hijriyah, maka lantas, sebagaimana madzhab Abi Hanifah, kewajiban puasa Asyura terombak (mansukh). Sedang menurut madzhab lainnya, kewajiban puasa Ramadhan itu hanya merombak kesunatan puasa Asyura’.

Kewajiban puasa Ramadhan berlandaskan Al-qur’an, Sunnah, dan Ijma.
“Diriwayatkan dari Abdullah Ibn Umar, bahwasanya dia mendengar Rasulullah saw bersabda: Islam berdiri atas lima pilar: kesaksian tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan salat, mengeluarkan zakat, haji ke Baitullah (Makkah) dan berpuasa di bulan Ramadhan.”

Kata ‘al-haj’ (haji) didahulukan sebelum kata ‘al-shaum’ (puasa), itu menunjukkan pelaksanakaan haji lebih banyak menuntut pengorbanan waktu dan harta. Sedang dalam riwayat lain, kata ‘al-shaum’ didahulukan, karena kewajiban puasa lebih merata (bisa dilaksanakan oleh mayoritas umat Islam) dari pada haji.

Kewajiban puasa Ramadhan sangat terang. Barang siapa yang mengingkari atau mengabaikan keberadaannya dia termasuk orang kafir, kecuali mereka yang hidup pada zaman Islam masih baru atau orang yang hidup jauh dari ulama.

PUASA DAN KESEHATAN
Setiap kita berbicara tentang hubungan puasa dengan kesehata, maka yang terpikir hanyalah pengaruh antara menahan lapar dan dahaga di siang hari terhadap kesehatan. Padahal, pengalaman dari dulu mennjukkan bahwa tidak ada orang yang mati atau jatuh sakit yang berat akibat berpuasa di bulan Ramadhan. Sedang untuk mereka yang benar-benar sakit, dari sejak awal Allah sudah mengizinkan mereka untuk tidak berpuasa, dan dibolehkan menggantinya dengan membayar fidyah. Tetapi untuk orang yang sehari-hari sehat, menunda makan minum selama dua belas jam bukanlah hal yang akan membahayakan kesehatannya, apa pula jiwanya.

Daya tahan manusia terhadap tidak adanya makanan dan minuman yang masuk ke tubuhnya cukup besar. Manusia sehat dapat bertahan hidup selama dua minggu, meskipun tanpa makanan sama sekali, asal tetap minum air. Sedangkan jika selain tidak makan juga tidak minum sama sekali, ia dapat bertahan selama seminggu. Kalau hanya menahan makan dan minum selama dua belas jam saja, pengaruh buruknya terhadap kesehatan praktis tidak ada sama sekali.

Penelitian medis terhadap orang yang berpuasa di bulan Ramadan pernah dilakukan oleh Muazzam dan Khaleque dan dilaporkan dalam majalah Journal of Tropical Medicine pada 1959. Juga oleh Chassain dan Hubert, yang dilaporkan dalam Journal of Physiology pada 1968.

Mereka menemukan bahwa tidak ada perubahan kadar unsur kimia dalam darah orang berpuasa selama bulan Ramadan. Kadar gula darah memang menurun lebih rendah daripada biasanya pada saat-saat menjelang magrib, tetapi tidak sampai membahayakan kesehatan. Kadar asam lambung akan meningkat pada saat menjelang magrib di hari-hari pertama puasa, tetapi selanjutnya akan kembali menjadi normal. Barangkali itu pula sebabnya puasa diwajibkan hanya kira-kira 12 jam saja.

Ketika pengaruh menahan lapar dan dahaga selama 12 jam di siang hari tidak berpengaruh terhadap kesehatan, yang sebenarnya lebih besar manfaatnya bagi kesehatan dalam berpuasa sebenarnya adalah justru niat dan kemauan untuk menahan nafsu.

Sebagaimana kita ketahui, sebagian besar penyakit yang diderita manusia sebenarnya berkaitan dengan perilaku manusia itu sendiri. Dari penyakit infeksi, muntaber, sampai ke penyakit jantung, penyakit akibat stres, bahkan beberapa jenis kanker erat kaitannya dengan perilaku tidak sehat manusia.

Contoh yang paling jelas tentang hubungan perilaku dengan penyakit adalah penyakit muntaber (akibat tidak menjaga kebersihan makanan dan lingkungan), dan penyakit kelamin (akibat “membeli” penyakit dari pelacur). Akal halnya penyakit jantung, tekanan darah tinggi, dan penyakit-penyakit akibat stres (termasuk sakit lambung), itu semua sangat erat kaitannya dengan ketidakmampuan menahan diri. Tidak mampu menahan diri ketika melihat pesaing lebih maju, tidak mampu menahan amarah, dan tidak mampu menahan diri untuk bersabar.

Ilmu kedokteran telah membuktikan bahwa mereka yang sedang marah, baik yang dipendam maupun dinyatakan, sedang “panas hati” oleh sebab apa pun, atau sedang dilanda rasa tidak sabar, akan meningkat kadar hormon katekholamin dalam darahnya. Hormon katekholamin ini akan memacu denyut jantung, menegangkan otot-otot, dan menaikkan tekanan darah. Semua itu, jika dibiarkan berlangsung lama, akan membahayakan kesehatan dan mempercepat proses ketuaan.

Ingat akan puasa ketika hendak marah, ketika tidak sabar, atau ketika panas hati, akanmematalkan terjadinya peningkatan kadar hormon kelompok katekholamin dalam darah. Efek inilah yang sebenarnya lebih besar pengaruhnya terhadap kesehatan dalam pengertian yang positif, karena ia akan menghindarkan seseorang dari efek buruk akibat kadar hormon kelompok katekholamin yang mingkat secara berlebihan ketika orang marah, kesal, panas hati, dan tidak sabar.

Puasa sebenarnya mengandung pesan agar orang menghindari perilaku yang tidak sehat, termasuk perilaku yang didorong oleh emosi. Hanya dengan demikian puasa akan memberi manfaat yang besar terhadap kesehatan dan membantu memperpanjang harapan hidup.

Posted by: bzakat | 4 June, 2010

Sifat Buruk Bangsa Yahudi

Dalam Alquran sedikitnya disebutkan 22 sifat buruk bangsa Yahudi, yakni:
1. Keras hati dan dzalim (Al-Baqarah:75,91,93,120,145,170; An-Nisa:160; Al-Maidah:41)
2. Kebanyakan fasik dan sedikit beriman kepada Allah SWT (Ali Imran:110; An-Nisa:55)
3. Musuh yang paling bahaya bagi orang-orang Islam (Al-Maidah:82)
4. Amat mengetahui kekuatan dan kelemahan orang-orang Islam seperti mereka mengenal anak mereka sendiri (Al-An’am:20)
5. Mengubah dan memutarbalikkan kebenaran (Al-Baqarah:75,91,101,140,145,211; Ali Imron:71,78; An-Nisa:46; Al-Maidah:41)
6. Menyembunyikan bukti kebenaran (Al-Baqarah:76,101,120,146; Ali Imron:71)
7. Hanya menerima perkara-perkara atau kebenaran yang dapat memenuhi cita rasa atau nafsu mereka (Al-Baqarah:87,101,120,146; Al-Maidah:41)
8. Ingkar dan tidak dapat menerima keterangan dan kebenaran AlQuran (Al-Baqarah:91,99; Ali Imron:70)
9. Memekakkan telinga kepada seruan kebenaran, membisukan diri untuk mengucapkan perkara yang benar, membutakan mata terhadap bukti kebenaran dan tidak menggunakan akal untuk menimbangkan kebenaran (Al-Baqarah:171)
10. Mencampuradukkan yang benar dan yang salah, yang hak dan yang batil (Ali Imran:71)
11. Berpura-pura mendukung orang Islam tetapi apabila ada di belakang orang-orang Islam, mereka mengutuk dengan sekeras-kerasnya (Al-Baqarah:76; Ali Imran:72,119)
12. Hati meraka sudah tertutup akan Islam karena dilaknat oleh Allah SWT yang disebabkan oleh kekufuran mereka sendiri (Al-Baqarah:88,120,145,146)
13. Kuat berpegang pada rasa kebangsaan mereka dan mengatakan bahwa mereka adalah bangsa yang istimewa yang dipilih oleh Tuhan dan menyakini agama yang selain daripada Yahudi adalah salah (Al-Baqarah:94,111,113,120,135,145; Al-Maidah:18)
14. Tidak akan ada kebaikan untuk seluruh manusia jika mereka memimpin (An-Nisa:53)
15. Tidak suka, dengki, iri hati terhadap orang-orang Islam (Al-Baqarah:90,105,109,120)
16. Mencintai kemewahan dan kehidupan dunia, bersifat tamak dan rakus, menginginkan umur yang panjang dan mengejar kesenangan serta takut akan kematian (Al-Baqarah:90,95,96,212)
17. Berkata bohong, mengingkari janji dan melampaui batas (Al-Baqarah:100,246,249 Ali Imran:183,184; An-Nisa:46)
18. Berlindung di balik mulut yang manis dan perkataan yang baik (Al-Baqarah:204,246; Ali Imron:72; An-Nisa:46)
19. Mengada-ada perkara-perkara dusta dan suka kepada perkara-perkara dusta (Ali Imran:24,94,183,184; Al-Maidah:41)
20. Berlaku sombong dan memandang rendah terhadap orang-orang Islam (Al-Baqarah:206,212,247)
21. Tidak amanah dan memakan hak orang lain dengan cara yang salah (Ali Imran:75,76; At-Taubah:34)
22. Selalu melakukan kerusakan dan menganjurkan peperangan (Ali Imran:64)

Posted by: bzakat | 4 June, 2010

DO’A DAN KEPEDULIAN (HARTA) UNTUK GAZA

KEPRIHATINAN ATAS PENYERANGAN BRUTAL TENTARA ZIONIS ISRAEL
TERHADAP KONVOI MISI KEMANUSIAAN UNTUK PALESTINA

Makar kaum Yahudi Israel telah nyata-nyata menginjak – injak nilai-nilai  kemanusiaan, karena memang sudah sifat mereka sebagaimana sudah Alloh SWT  gambarkan dalam Al Qur’an diantaranya ingkar, berlaku sombong, serakah, membunuh Nabi, menyembunyikan bukti kebenaran, dan sebagainya. 31 Mei 2010, menjadi hari penuh duka yang mengharu-biru bagi seluruh bangsa-bangsa di dunia yang cinta akan perdamaian. Tentara Angkatan Laut Israel dengan bersenjatakan militer lengkap telah melakukan penyerangan terhadap konvoi sembilan kapal misi kemanusiaan, yang dilabuhkan oleh para aktivis kemanusiaan se-dunia, yang didalamnya mengangkut berton-ton (10.000 ton) bantuan kemanusiaan.

Aksi penyerangan dan drama pembunuhan oleh tentara Israel ini berlangsung sebelum konvoi kemanusiaan mencapai Kota Gaza di Palestina. Bahkan, peristiwa brutal, bar-bar dan tak berperikemanusiaan itu terjadi, justru saat konvoi bantuan kemanusiaan tersebut masih berada di lokasi zona perairan internasional, atau sekitar 65 kilometer dari daratan pantai Gaza.

Kebrutalan dan kebiadaban zionis Isreal laknatullah telah kerapkali dipertontonkan Israel laknatullah secara terbuka. Telah banyak korban jiwa berjatuhan, tua muda, besar kecil, perempuan maupun lelaki dari rakyat Palestina yang ditindas dan dijajah hak-hak kebangsaannya. Akankah kita hanya berdiam diri saja demi melihat kezaliman dan kebiadaban Israel ini?

Kami Menyerukan kepada seluruh kaum Muslimah & umat Islam di seluruh Indonesia untuk tetap memberikan dukungan dan memberikan bantuan doa dan harta sepenuhnya terhadap pelaksanaan misi kemanusiaan bagi bangsa Palestina. Sekaligus, mendoakan para aktifis kemanusiaan agar dapat selamat dari aksi kejam dan bar-bar zionis Israel, sehingga dapat menyalurkan bantuan kemanusiaan tersebut secara leluasa dan langsung kepada rakyat Palestina khususnya kelompok perempuan dan anak.

Donasi Untuk  Gaza dapat anda salurkan melalui:

BCA No. 578 031 7266

Rekening Bank Syariah Mandiri No. 120.700 1529

an Yayasan Rumah Sejahtera

Ayo Peduli…

Posted by: bzakat | 14 May, 2010

Adik Risa telah Berpulang ke Rahmatullah

Saudaraku,  dalam kesedihan kita tetap tegar berucap “semoga Alloh SWT memberi ketabahan bagi keluarga yang ditinggalkan ” sungguhpun ada sesak di rongga dada, ucapkan Innalillahi wainna ilaihi rojiun, telah berpulang Adik Riska (penderita Gizi Buruk) pada Rabu, Jam 14.00 WIB.  Pagi hari Rabu jam 09.15 WIB kami masih mengecek, Mas Candra (sang Kakak) masih memberi tahu “Masih seperti yang lalu Pak, semoga cepat sembuh” katanya.

Candra baru menginformasikan Jum’at, jam 11. 25WIB, tetang wafatnya Adik Riska, apalah daya, Alloh SWT maha menentukan ajal manusia.

Semoga Alloh SWT  mengampuni segala kesalahannya, melapangkan kuburnya, dan keluarga yang ditinggalkan selalu diberi ketabahan. Amien

Posted by: bzakat | 7 May, 2010

Dracula, Pembantai Umat Islam Dalam Perang Salib

Membongkar Sebuah Kebohongan

Kisah hidup Dracula merupakan salah satu contoh bentuk penjajahan sejarah
yang begitu nyata yang dilakukan Barat. Kalau film Rambo merupakan suatu
fiksi yang kemudian direproduksi agar seolah-olah menjadi nyata oleh Barat,
maka Dracula merupakan kebalikannya, tokoh nyata yang direproduksi menjadi
fiksi. Bermula dari novel buah karya Bram Stoker yang berjudul Dracula,
sosok nyatanya kemudian semakin dikaburkan lewat film-film seperti Dracula’s
Daughter (1936), Son of Dracula (1943), Hoorof of Dracula (1958), Nosferatu
(1922)-yang dibuat ulang pada tahun 1979-dan film-film sejenis yang
terus-menerus diproduksi.

Lantas, siapa sebenarnya Dracula itu?
Dalam buku berjudul “Dracula, Pembantai Umat Islam Dalam Perang Salib” karya
Hyphatia Cneajna ini, sosok Dracula dikupas secara tuntas. Dalam buku ini
dipaparkan bahwa Dracula merupakan pangeran Wallachia , keturunan Vlad
Dracul. Dalam uraian Hyphatia tersebut sosok Dracula tidak bisa dilepaskan
dari menjelang periode akhir Perang Salib. Dracula dilahirkan ketika
peperangan antara Kerajaan Turki Ottoman-sebagai wakil Islam-dan Kerajaan
Honggaria-sebagai wakil Kristen-semakin memanas. Kedua kerajaan tersebut
berusaha saling mengalahkan untuk merebutkan wilayah-wilayah yang bisa
dikuasai, baik yang berada di Eropa maupun Asia .

Puncak dari peperangan ini adalah jatuhnya Konstantinopel- benteng
Kristen-ke dalam penguasaan Kerajaan Turki Ottoman. Dalam babakan Perang
Salib di atas Dracula merupakan salah satu panglima pasukan Salib. Dalam
peran inilah Dracula banyak melakukan pembantain terhadap umat Islam.
Hyphatia memperkirakan jumlah korban kekejaman Dracula mencapai 300.000 ribu
umat Islam. Korban-korban tersebut dibunuh dengan berbagai cara-yang
cara-cara tersebut bisa dikatakan sangat biadab-yaitu dibakar hidup-hidup,
dipaku kepalanya, dan yang paling kejam adalah disula. Penyulaan merupakan
cara penyiksaan yang amat kejam, yaitu seseorang ditusuk mulai dari anus
dengan kayu sebesar lengan tangan orang dewasa yang ujungnya dilancipkan.
Korban yang telah ditusuk kemudian dipancangkan sehingga kayu sula menembus
hingga perut, kerongkongan, atau kepala. Sebagai gambaran bagaimana situasi
ketika penyulaan berlangsung penulis mengutip pemaparan Hyphatia:

“Ketika matahari mulai meninggi Dracula memerintahkan penyulaan segera
dimulai. Para prajurit melakukan perintah tersebut dengan cekatakan seolah
robot yang telah dipogram. Begitu penyulaan dimulai lolong kesakitan dan
jerit penderitaan segera memenuhi segala penjuru tempat itu. Mereka, umat
Islam yang malang ini sedang menjemput ajal dengan cara yang begitu
mengerikan. Mereka tak sempat lagi mengingat kenangan indah dan manis yang
pernah mereka alami.”

Tidak hanya orang dewasa saja yang menjadi korban penyulaan, tapi juga bayi.
Hyphatia memberikan pemaparan tetang penyulaan terhadap bayi sebagai
berikut:
“Bayi-bayi yang disula tak sempat menangis lagi karena mereka langsung
sekarat begitu ujung sula menembus perut mungilnya. Tubuh-tubuh para korban
itu meregang di kayu sula untuk menjemput ajal.”
Kekejaman seperti yang telah dipaparkan di atas itulah yang selama ini
disembunyikan oleh Barat. Menurut Hyphatia hal ini terjadi karena dua sebab.

Pertama,
pembantaian yang dilakukan Dracula terhadap umat Islam tidak bisa dilepaskan
dari Perang Salib. Negara-negara Barat yang pada masa Perang Salib menjadi
pendukung utama pasukan Salib tak mau tercoreng wajahnya. Mereka yang getol
mengorek-ngorek pembantaian Hilter dan Pol Pot akan enggan membuka borok
mereka sendiri. Hal ini sudah menjadi tabiat Barat yang selalu ingin menang
sendiri.
Kedua,
Dracula merupakan pahlawan bagi pasukan Salib. Betapapun kejamnya Dracula
maka dia akan selalu dilindungi nama baiknya. Dan, sampai saat ini di
Rumania , Dracula masih menjadi pahlawan. Sebagaimana sebagian besar sejarah
pahlawan-pahlawan pasti akan diambil sosok superheronya dan dibuang segala
kejelekan, kejahatan dan kelemahannya.

Guna menutup kedok kekejaman mereka, Barat terus-menerus menyembunyikan
siapa sebenarnya Dracula. Seperti yang telah dipaparkan di atas, baik
lewat karya fiksi maupun film, mereka berusaha agar jati diri dari sosok
Dracula yang sebenarnya tidak terkuak. Dan, harus diakui usaha Barat untuk
mengubah sosok Dracula dari fakta menjadi fiksi ini cukup berhasil. Ukuran
keberhasilan ini dapat dilihat dari seberapa banyak masyarakat-khususny a
umat Islam sendiri-yang mengetahui tentang siapa sebenarnya Dracula. Bila
jumlah mereka dihitung bisa dipastikan amatlah sedikit, dan kalaupun mereka
mengetahui tentang Dracula bisa dipastikan bahwa penjelasan yang diberikan
tidak akan jauh dari penjelasan yang sudah umum selama ini bahwa Dracula
merupakan vampir yang haus darah.

Selain membongkar kebohongan yang dilakukan oleh Barat, dalam bukunya
Hyphatia juga mengupas makna salib dalam kisah Dracula. Seperti yang telah
umum diketahui bahwa penggambaran Dracula yang telah menjadi fiksi tidak
bisa dilepaskan dari dua benda, bawang putih dan salib. Konon kabarnya hanya
dengan kedua benda tersebut Dracula akan takut dan bisa dikalahkan. Menurut
Hyphatia pengunaan simbol salib merupakan cara Barat untuk menghapus
pahlawan dari musuh mereka-pahlawan dari pihak Islam-dan sekaligus untuk
menunjukkan superioritas mereka.

Siapa pahlawan yang berusaha dihapuskan oleh Barat tersebut? Tidak lain
Sultan Mahmud II (di Barat dikenal sebagai Sultan Mehmed II). Sang Sultan
merupakan penakluk Konstantinopel yang sekaligus penakluk Dracula. Ialah
yang telah mengalahkan dan memenggal kepala Dracula di tepi Danua Snagov.
Namun kenyataan ini berusaha dimungkiri oleh Barat. Mereka berusaha agar
merekalah yang bisa mengalahkan Dracula. Maka diciptakanlah sebuah fiksi
bahwa Dracula hanya bisa dikalahkan oleh salib. Tujuan dari semua ini selain
hendak mengaburkan peranan Sultan Mahmud II juga sekaligus untuk menunjukkan
bahwa merekalah yang paling superior, yang bisa mengalahkan Dracula si Haus
Darah.

Dan, sekali lagi usaha Barat ini bisa dikatakan berhasil.
Selain yang telah dipaparkan di atas, buku “Dracula, Pembantai Umat Islam
Dalam Perang Salib” karya Hyphatia Cneajna ini, juga memuat hal-hal yang
selama tersembunyi sehingga belum banyak diketahui oleh masyarakat secara
luas. Misalnya tentang kuburan Dracula yang sampai saat ini belum terungkap
dengan jelas, keturunan Dracula, macam-macam penyiksaan Dracula dan sepak
terjang Dracula yang lainnya.

Kesimpulan
suatu penjajahan sejarah tidak kalah berbahayanya dengan bentuk penjajahan
yang lain-politik, ekonomi, budaya, dll. Penjajahan sejarah ini dilakukan
secara halus dan sistematis, yang apabila tidak jeli maka kita akan
terperangkap di dalamnya. Oleh karena itu, sikap kritis terhadap sejarah
merupakan hal yang amat dibutuhkan agar kita tidak terjerat dalam penjajahan
sejarah. Sekiranya buku karya Hyphatia ini-walaupun masih merupakan langkah
awal-bisa dijadikan pengingat agar kita selalu kritis terhadap sejarah
karena ternyata penjajahan sejarah itu begitu nyata ada di depan kita.
Wikipedia pun mengkonfirmasikan eksistensi historis Dracula yang membantai
ribuan Muslim dengan cara menusuk/mensula (impale)
Referensi :
<http://en.wikipedia .org/wiki/ Dracula#Allusion s_to_actual_ history_and_ geo>
http://en.wikipedia .org/wiki/ Dracula#Allusion s_to_actual_ history_and_ geo
graphy
Sumber : Dracula, Pembantai Umat Islam dalam Perang Salib
Ditulis pada Maret 1, 2008 oleh agungsulistyo (Makalah ini disampaikan
dalam bedah buku Dracula, Pembantai Umat Islam dalam Perang Salib” di
auditorium Fakultas Ilmu Budaya UGM Oleh: Ragil Nugroho)

Posted by: bzakat | 4 May, 2010

Infaq Peduli Adik Riska

Tanggap Gizi Buru (TGB) Bekasi

Dipojok ruangan sebuah kontrakan sempit di Kp. Poncol RT02/02 Jakasetia,  Pekayon,  Bekasi Barat, tergolek tubuh ringkih dan kecil Adik Riska (Mariska Alifia binti Wati Durwati ) terkena  gizi kurang, Tim Baituzzakat menemukannya akhir april 2010 setelah ada pengaduan warga terjadi kasus Gizi Buruk di daerahnya.

“Ini hampir 2 tahun kondisi riska begini, Pak” Nenek Riska, Ibu Raniti  bercerita. Umurnya sekitar 5 tahun tapi tubuhnya seberat bayi 5 bulan.

Kondisi Adik Riska sangat memilukan  dengan tubuh terbungkus kain lusuh dan kondisi yang sangat kurus kering, kulit membalut tulang, ditambah lagi adik Riska sudah sulit makan menambah berat badan makin turun. Mulut mulai berbusa putih agak kekuningan, jika ditanya sesekali menangis, merintih, dalam tatapan mata yang kosong dan sayup kata yang terbata tanpa ucapan. Kemudian menangis lagi, dan lagi.

Sadar dan ucapkan salam penuh perhatian kepada Adik Riska, mari membantu sekuat hati dan tenaga kita, minimal dalam do’a yang seikhlas-ikhlasnya, semoga Alloh SWT memberikan kesembuhan bagi  Adik kecil kita Mariska Alifia. Amien.

Bantuan materi/dana dapat anda salurkan melalui  Rumah Sejahtera Baituzzakat :

1.  Atas nama Yayasan Rumah Sejahtera,

    • Bank Syariah Mandiri (BSM) No.: 120 700 1529
    • Bank Mandiri  No. : 125.000 4945341
    • Bank  BNI No. : 00162 54663

    2.  Bank Central Asia (BCA) an. M. Nuh, No. 578 031 7266

    Mari Cinta Infaq…

    Older Posts »

    Categories